Property Terbaik di Harga Paling Tepat

Kami akan selalu memberikan property terbaik yang bernilai tinggi dengan harga yang terus bergerak naik. Hubungi kami untuk mendapatkan property pilihan yang tepat sebagai investasi maupun penggunaan sendiri.

Primary Listing
  • Signature Park Grande

    Signature Park Grande

  • DeVins Puncak

    DeVins Puncak

The Primary Listing

The Primary Listing

Proyek-proyek terbaru dengan harga perdana
Read More
Properti Dijual

Properti Dijual

Rumah, Apartment, Ruko dan Office space siap pakai
Read More
Properti Disewakan

Properti Disewakan

Properti-properti disewakan ada disini
Read More
Properti Dicari

Properti Dicari

Daftarkan properti anda dan kirim saran anda disini.
Read More

Segmen Rumah Seharga 100 Juta

Segmen rumah seharga 100 Juta-an menjadi incaran berbagai kalangan termasuk kalangan masyarakat yang sudah punya hunian. Salah satunya adalah seorang karyawan swasta sedang mencari rumah murah di pameran rumah rakyat yang diselenggarkaan Kementerian Perumahan Rakyat, di JCC, Jakarta 3-7 September 2014. Padahal, beliau mengaku sudah memiliki dua unit aparteman, di Depok dan Pluit.

Beliau mengaku memiliki apartemen sejak dua tahun lalu. Namun sejak pertama kali serah terima, apartemennya tersebut tak pernah dia tinggali, melainkan disewakan pada orang lain. Apartemen yang satu di Pluit masih belum dibangun, keduanya ia peroleh dengan cara Kredit Pemilikan Apartemen (KPA).

Karena tergiur dari harga rumah yang ditawarkan pameran. Dia pun tidak masalah dengan jarak rumah yang jauh dari perkotaan, asalkan harganya masuk di kantong karyawan swasta ini. Tak seperti apartemen yang menjadikan ladang investasi baginya, rumah yang bakal dibelinya ini akan ditinggali meski jaraknya jauh dari kota tempat ia bekerja. Dengan penghasilan di atas Rp 4 juta per bulan, dia tak termasuk yang boleh mendapat rumah subsidi bunga (FLPP) dengan harga rumah Rp 100 jutaan.

Seperti yang kita ketahui, properti untuk hunian menengah di Indonesia, khususnya di Jabodetabek mengalami deadlock, dan seiring waktu berjalan keadanaan semakin tidak berimbang, sebuah sumber mengatakan, pasokan rumah pertahun adalah 30.000 Unit, sedangkan kebutuhan betambah sebesar 80.000 Unit per tahun-nya.

Pameran Properti Online adalah sarana yang mumpuni dalam mencari hunian atau rumah baru. Di sini disajikan hunian terpilih dari Berbagai developer unggul di Berbagai daerah. Dan specialnya adalah semua yang masih ditawarkan dengan harga prelaunching.

Usaha Mewujudkan Kota Yang Liveable

Pada saat ini daerah-daerah di Indonesia sudah mulai berbenah diri. Di Jakarta, misalnya, pemerintah sudah mulai menaruh perhatian pada pengelolaan sarana transportasi umum. Sementara di Jakarta, Surabaya dan beberapa kota besar, pemerintah kotanya mulai mengarah pada usaha mewujudkan kota yang liveable.

Namun, di sisi lain, rupanya masih ada masalah yang merongrong pengelolaan kota. Menurut Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP), Bernardus R Djonoputro, dari hampir 500 kabupaten di Indonesia, masih ada hampir 5.000 Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang belum tuntas. Padahal, tuntasnya hal ini akan memberikan pegangan legal bagi masyarakat.

“Dari hampir 500 kabupaten, kalau kita lihat ada hampir 5.000 Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang harus dituntaskan. RTRW dan RDTR ada yang sudah (memiliki) perda dan ada yang belum. Ini tantangan berat,” ujar Bernardus seusai konferensi pers Kongres Dunia EAROPH di Jakarta, Kamis (7/8/2014).

Menurut Bernardus, belum tersedianya perda untuk RTRW dan RDTR di beberapa kabupaten tersebut terjadi karena berbagai kendala. Kendala pertama adalah kebutuhan tenaga perencana kota yang mumpuni.

Tidak hanya di kota besar, tetapi juga di daerah. Dengan kata lain, jumlah tenaga-tenaga ahli perlu diperbanyak. Kedua, kurangnya pengertian politisi akan pentingnya perencanaan kota.

“Kedua, pengalaman kita melihat proses mem-perda-kan RTRW dan RDTR sampai sekarang memperlihatkan bahwa butuhnya pengertian lebih jauh dari politisi, terutama DPRD karena RTRW harus disahkan oleh DPRD supaya jadi perda. Banyak permasalahan karena politisinya tidak mengerti esensi dari RDTR ini. Atau, adanya kepentingan-kepentingan lain, sehingga RDTR tidak jadi-jadi,” kata Bernardus.

Ketiga, ketidaktuntasan pemerintah daerah dalam menangani RTRW dan RDTR. Hasilnya, pergantian pemerintahan berarti dimulainya kajian baru yang membuang banyak waktu.

“Yang ketiga, kan ada siklus pemilihan wali kota. Kadang-kadang, siklus ini jatuh ketika RDTR-nya belum selesai. Wali kota yang baru kemudian mengkaji lagi sehingga permasalahan yang paling berat ada di lapangan. Ketika masyarakat ingin berinvestasi atau masyarakat ingin tinggal, atau ingin membangun menemui kesulitan karena tidak ada pegangan legal, itu satu. Kedua, pengendaliannya jadi susah. Jadi, kompleks. Dengan 27 wali kota berkumpul, mudah-mudahan mereka bisa kepikiran,” ujar Bernardus.

Adapun 27 wali kota yang dimaksud Bernardus adalah wali kota-wali kota dari Indonesia dan berbagai negara lainnya di Asia Pasifik. Mulai Minggu (10/8/2014) hingga Rabu (13/8/2014), Jakarta akan menjadi tuan rumah bagi 24th Eastern Regional Organization for Planning and Human Settlements (EAROPH) World Congress (Kongres Dunia Ke-24 EAROPH). Acara bertajuk “Towards Resilient and Smart Cities: Innovation, Planning, and Determination in Managing Major Cities of the World” tersebut akan membahas masa depan kota dunia, tantangan, strategi, dan pemikiran. Pada segmen Mayor Caucus, ke-27 wali kota akan saling bertukar pikiran.

Sumber Kompas[dot]com.

Pameran Properti Online hanya menampilkan properti-properti terbaik yang memberikan kemudahan bagi para pencari properti.