Property Terbaik di Harga Paling Tepat

Kami akan selalu memberikan property terbaik yang bernilai tinggi dengan harga yang terus bergerak naik. Hubungi kami untuk mendapatkan property pilihan yang tepat sebagai investasi maupun penggunaan sendiri.

Primary Listing
  • Signature Park Grande

    Signature Park Grande

  • DeVins Puncak

    DeVins Puncak

The Primary Listing

The Primary Listing

Proyek-proyek terbaru dengan harga perdana
Read More
Properti Dijual

Properti Dijual

Rumah, Apartment, Ruko dan Office space siap pakai
Read More
Properti Disewakan

Properti Disewakan

Properti-properti disewakan ada disini
Read More
Properti Dicari

Properti Dicari

Daftarkan properti anda dan kirim saran anda disini.
Read More

Usaha Mewujudkan Kota Yang Liveable

Pada saat ini daerah-daerah di Indonesia sudah mulai berbenah diri. Di Jakarta, misalnya, pemerintah sudah mulai menaruh perhatian pada pengelolaan sarana transportasi umum. Sementara di Jakarta, Surabaya dan beberapa kota besar, pemerintah kotanya mulai mengarah pada usaha mewujudkan kota yang liveable.

Namun, di sisi lain, rupanya masih ada masalah yang merongrong pengelolaan kota. Menurut Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP), Bernardus R Djonoputro, dari hampir 500 kabupaten di Indonesia, masih ada hampir 5.000 Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang belum tuntas. Padahal, tuntasnya hal ini akan memberikan pegangan legal bagi masyarakat.

“Dari hampir 500 kabupaten, kalau kita lihat ada hampir 5.000 Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang harus dituntaskan. RTRW dan RDTR ada yang sudah (memiliki) perda dan ada yang belum. Ini tantangan berat,” ujar Bernardus seusai konferensi pers Kongres Dunia EAROPH di Jakarta, Kamis (7/8/2014).

Menurut Bernardus, belum tersedianya perda untuk RTRW dan RDTR di beberapa kabupaten tersebut terjadi karena berbagai kendala. Kendala pertama adalah kebutuhan tenaga perencana kota yang mumpuni.

Tidak hanya di kota besar, tetapi juga di daerah. Dengan kata lain, jumlah tenaga-tenaga ahli perlu diperbanyak. Kedua, kurangnya pengertian politisi akan pentingnya perencanaan kota.

“Kedua, pengalaman kita melihat proses mem-perda-kan RTRW dan RDTR sampai sekarang memperlihatkan bahwa butuhnya pengertian lebih jauh dari politisi, terutama DPRD karena RTRW harus disahkan oleh DPRD supaya jadi perda. Banyak permasalahan karena politisinya tidak mengerti esensi dari RDTR ini. Atau, adanya kepentingan-kepentingan lain, sehingga RDTR tidak jadi-jadi,” kata Bernardus.

Ketiga, ketidaktuntasan pemerintah daerah dalam menangani RTRW dan RDTR. Hasilnya, pergantian pemerintahan berarti dimulainya kajian baru yang membuang banyak waktu.

“Yang ketiga, kan ada siklus pemilihan wali kota. Kadang-kadang, siklus ini jatuh ketika RDTR-nya belum selesai. Wali kota yang baru kemudian mengkaji lagi sehingga permasalahan yang paling berat ada di lapangan. Ketika masyarakat ingin berinvestasi atau masyarakat ingin tinggal, atau ingin membangun menemui kesulitan karena tidak ada pegangan legal, itu satu. Kedua, pengendaliannya jadi susah. Jadi, kompleks. Dengan 27 wali kota berkumpul, mudah-mudahan mereka bisa kepikiran,” ujar Bernardus.

Adapun 27 wali kota yang dimaksud Bernardus adalah wali kota-wali kota dari Indonesia dan berbagai negara lainnya di Asia Pasifik. Mulai Minggu (10/8/2014) hingga Rabu (13/8/2014), Jakarta akan menjadi tuan rumah bagi 24th Eastern Regional Organization for Planning and Human Settlements (EAROPH) World Congress (Kongres Dunia Ke-24 EAROPH). Acara bertajuk “Towards Resilient and Smart Cities: Innovation, Planning, and Determination in Managing Major Cities of the World” tersebut akan membahas masa depan kota dunia, tantangan, strategi, dan pemikiran. Pada segmen Mayor Caucus, ke-27 wali kota akan saling bertukar pikiran.

Sumber Kompas[dot]com.

Pameran Properti Online hanya menampilkan properti-properti terbaik yang memberikan kemudahan bagi para pencari properti.

Yield Sebagai Instrumen Dalam Penilaian Property

Sebagian Investor property memperoleh keuntungan dengan cara menyewakan property-nya. Harga sewa cenderung naik, disebabkan property memiliki sifat kelangkaan tanah (scarcity of land or property). Harga tanah juga tentunya dipengaruhi oleh harga sewa tanah tersebut, keterkaitan itulah yang banyak dikatakan orang, Yield.

Yield adalah Persentase yang dihitung dari nilai sewa per tahun dibandingkan dengan harga property. Misalnya, harga property Rp 1 Milyard sementara harga sewa Rp 50 Juta per tahun, maka Yield property tersebut adalah 5%. Yieldumumnya dijadikan acuan potensi sebuah property yang bertujuan untuk disewakan.

Berikut ini kisaran Yieldper tahun yang dapat menjadi acuan untuk beberapa produk property :
Lahan/ Tanah Kosong (0,5 – 2%); Rumah (3 – 5%); Rumah Kos (5 – 7%); Ruko/ Rukan (6 – 9%); Apartment (7 – 10%); Kios/ Toko (5 – 10%); Office Strata (7 – 10%); Condotel (6 – 8%).

Untuk investasi Office Strata, pilihlah lokasi yang setidaknya bisa memberikan yield minimal 7%. Terkadang ada lokasi yang perolehan Yield-nya hanya berkisar 3% -6%, tentunya sangat tidak recommended. Sebaliknya bila ada Office Strata yang memberikan nilai Yield 10%, tentulah Office Strata tersebut sangat layak untuk dibeli.

Berinvestasi Serviced Apartment menjadi favorit di Negara-negara maju saat ini. Potensinya sangat menjanjikan, akan menjadi sebuah pilihan utama bila Serviced Apartment tersebut memberikan nilai Yield di atas 6%. Selain juga tentunya dilihat dari beberapa factor seperti, pengembang dan Building Management yang kerjasama.

Mustika Golf Residence, memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk menjadi Serviced Apartment yang sangat layak untuk dibeli. Lokasi sempurna, Fasilitas lengkap dan exclusive, Developer berpengalaman dan terpercaya, Management kelas dunia, Yield 11-13% menambah daya tarik selain harganya yang sangat terjangkau.